28
Nov

kayaknya makin lama aku makin males nge blog,, antara males, (sok) sibuk dan ga ada ide. jauh lebih seneng update status fesbuk dan blog ku yang satunya lagi itu :D

alhamdulillah DKM Cakes udah buka warung lagi, setelah hampir sebulan libur.. kami udah punya asisten baru yang udah experd, bisa diandalkan lah daripada sebelumnya.
namanya Bu Im, sama Utinya Biyu disarankan manggil Mbah Im, secara emang umurnya yg hampir sama kayak Utinya Biyu.. hihihihi..

2 bulan lalu saat masih repot2nya cari asisten, aku pengen punya asisten yang “perfect” dengan kualifikasi antara lain kayak gini, umur 25-40 tahun, janda, berpengalaman jadi asisten, cekatan, bisa baca tulis, makannya ga banyak, sayang anak dll.. walahh,, wakeh e ya..
ternyata ga semudah ituu dapet asisten yang sesuai kriteria tsb..secara jaman udah beda. klo dulu mungkin masih bisa nyari asisten yang bener2 sendiko dawuh dan ngenger ikut juragan.. klo sekarang suliiiiiiiiiit e poll. Utinya Biyu sampe pawsing muter2 nyari asisten yang bener2 pas. ada yg umur 35 tahunan, janda, berpengalaman TKW, tapi begitu dikasi tau standar gaji jakarta jadi sinis. mintak dinaikin,, padahal kita kan belum tau kerjanya kayak apa. ada juga yg umur 25 tahun, janda, berpengelaman kerja sbg asisten, baru semalem nginep di rumah ibuku udah dijemput bekas juragannya, diiming2 naek gaji. untung aja ga jadi memperkerjakan orang itu, soale ternyata kerjanya mainan hapeeeeeee mulu.. cabede..

asisten yg sekarang ini,, meski udah berumur, alhamdulillah sayang dan telaten banget sama biyu. kerjaan juga sejauh ini ga mengecewakan.. bunda harap asisten yg ini cocok sampe seterusnya.. ;)

15
Oct

just share, dari milis parenting yang Ayah ikutin..
smoga bermanfaat :)

Jangan Membentak Anak

Pernahkah Anda melihat bagaimana seorang ayah/ibu membentak anak-anaknya? adakah yang dengan lemah lembut dan penuh senyuman? ternyata tidak. Kita juga dapat melihat, berapa banyak orang tua yang ingin dipatuhi dan dihargai anak-anaknya namun dengan metode ‘membentak’ ehm…ironi memang, padahal dari membentak itulah banyak efek negatif yang akan dialami sang anak. Membentak, pada anak akan sangat berefek pada psikologisnya, dia akan merasa tertekan dan akan memendam rasa tertekannya itu. Membentak bisa berpengaruh buruk pada anak-anak, karena bisa membuat renggang ikatan batin dengan anak, selain itu bentakan tidak mengajarkan apa-apa untuk perkembangan si kecil. Saat usia anak masih di bawah 10 tahun, mereka tidak akan melawan atau balas membentak. Tetapi karena sikap pasif mereka itu, Anda jadi tidak bisa mengukur seberapa besar dampak psikologis yang ditimbulkan karena membentak. Anak cenderung untuk meniru perilaku orangtuanya. Seorang anak yang selalu dibentak, diomeli, atau dimarahi, akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dia sah-sah saja berkomunikasi dengan menggunakan bentakan, omelan, atau kemarahan.

Nah, bagaimana me-manage kekesalan kita pada anak, supaya kita tak perlu ngomel (apalagi membentak atau memarahi)? Berikut ini tipsnya.

1. Berikan instruksi dengan jelas.

Sebagai contoh, Anda sudah capek berkali-kali menyuruh anak menaruh baju kotornya di tempat khusus, tapi mereka tetap saja menggeletakkan baju-baju itu di lantai. Nah, daripada ngomel, lebih baik kita teliti, jangan-jangan anak kita memang belum bisa membiasakan diri melakukan sesuatu atau tidak paham instruksi kita. Anak usia di bawah 7 tahun butuh bantuan ortu dalam pembiasaan sesuatu. Jadi, jangan beri instruksi saja, melainkan ajak anak bersama-sama mengambil bajunya dari lantai lalu menaruhnya di ember cucian. Jika anak sudah berusia belasan tahun, gunakan kata “saya”, bukan “kamu”, misalnya, “Mama lihat kamu masih meletakkan bajumu di lantai.” Jangan ngomel, “Kamu kenapa sih, kok naruh baju kotor di lantai melulu?!”. Hindari kata “melulu, selalu, terus-terusan, atau pasti” karena pelabelan semacam ini malah mendorong anak untuk terus melakukan kebiasaan buruknya.

2. Selalu introspeksi sumber kemarahan Anda.

Seringkali, kemarahan kita pada anak sesungguhnya bersumber dari problem yang ada dalam diri kita. Bila Anda capek pulang dari kantor atau capek seharian mempersiapkan makanan untuk arisan nanti sore, lalu Anda melihat anak Anda menumpahkan susu di karpet, sangat mungkin Anda segera meledak dan ngomel panjang lebar. Karena itu, saat ada insiden yang membuat Anda marah, tahan sebentar dan introspeksi diri. Tanyalah pada diri sendiri, apakah perilaku anak Anda memang patut ditegur atau bisa dibiarkan saja. Misalnya, saat Anda baru pulang (dan tadi di kantor sedang suntuk karena perilaku atasan), anak-anda Anda bertengkar dan salah satunya mengadu sambil menangis. Kalau Anda sedang tidak mood untuk menyelesaikan insiden yang terjadi, katakan pada anak Anda bahwa perasaan Anda sedang tidak enak dan Anda akan membicarakan masalah itu nanti. Kalau ada anggota keluarga yang bisa dimintai bantuan (misalnya suami), lebih baik serahkan urusan anak kepadanya sampai perasaan Anda membaik.

3. Identifikasi problem Anda.

Ngomel dan membentak tidak membuat problem Anda selesai. Anak remaja tidak tahu bahwa Anda sakit kepala saat mereka menghidupkan kaset keras-keras. Anak-anak butuh penjelasan dari orangtua apa yang dirasakan oleh orangtua supaya mereka memahami apa yang sedang terjadi. Jadi, daripada ngomel, “Hey, kecilin bunyi tape-nya! Mama pusing!” lebih baik jelaskan baik-baik bahwa Anda tidak tahan bunyi keras dan kepala Anda pusing bila mendengar bunyi keras. Anak kecil juga tidak paham mengapa Anda harus marah saat dia menumpahkan sesuatu di karpet. Karena itu, daripada ngomel, “Tuh kan , tumpah lagi! Mama kan sudah bilang, hati-hati!” lebih baik Anda mengajak anak Anda mengelap karpet dan jelaskan bahwa kita harus menjaga kebersihan karpet.

4. Penuhi kebutuhan dasar Anda dulu.

Jika Anda berusaha menyelesaikan masalah dengan anak saat Anda lelah atau lapar, berarti saat itu kebutuhan dasar Anda belum terpenuhi dan hal ini akan menambah rasa frustasi. Karena itu, bila situasinya memungkinkan, Anda sebaiknya makan atau istrirahat dulu, baru selesaikan masalah dengan anak Anda.

5. Berikan respon, bukan reaksi.

Membentak dan mengomel adalah tindakan reaktif dan kadang malah membuat anak menggunakan cara ‘mengganggu’ untuk mencari perhatian dari Anda. Bila ada perilaku anak yang menurut Anda tak pantas, daripada bersikap reaktif (ngomel/membentak), lebih baik bersikap responsif. Tataplah mata anak Anda dan ungkapkan maksud Anda dalam kalimat yang pendek. Contohnya, daripada ngomel, “Heh, Mama udah capek bilang sama kamu, naruh tas jangan di sini! Taruh di kamar sana !” pakailah kalimat pendek dan tegas (sambil menatap mata anak), “Nak, tolong taruh tasnya di kamar. Sekarang.”

Anak kita adalah masa depan kita, marilah kita didik dengan kata-kata yang bijak penuh cinta dan kasih saying, karena anak bagaikan cermin bagi kita, dia akan memantulkan apapun sesuai sumber benda yang dipantulkannya.

Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan dalam mendidik anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

Sumber:

1. kompasdotcom

2. “Effective Parenting Lessons: How to Stop Yelling at Your Children” karya Marie Magdala Roker

15
Oct

minggu ini bisa jadi awal yang berat untuk memulai sebuah TA aka tugas akhir.

bimbingan sih dimulai sabtu minggu lalu. tapi ayah dan bunda ga datang.. karna si Biyu deman dari jumat sore. perkiraan bunda sih karna gigi geraham atasnya tumbuh ya, secara yang panas cuman bagian kepala sampe pundak aja. tangan, badan dan kaki gapapa.
itu aja rewelnya mintaa ampyun :D
minta gendongg mulu semalamam, untungnya sih minta gendongnya ke ayah, bukan bunda. hihihih.. kalo sam ayah kan dimanja pol, meski udah sakit punggung yo cuman berpuisi,, “ayo lah nduk ayah capek,, kasih pengertian po;o,, ayah mo bubuk bentar dulu”. klo sama bunda lebih tegas pastinja… pertama aku gendong,, kalo aku udah capek tak suruh turun dan bubuk.. hihihih ;) )

alhamdulillah setelah dikasi t*mp* d*o* sabtu sore udah ga anget lagi. stress juga kali ya si biyu,, ada pembokat baru dan ga komunikatif sama dia, palagi tiap hari kerjaan ku ngomil2 sama itu pembokat makanya jadi sakit :D

btw, balik ke TA.
bunda buat yang gimpil2 aja lah.. yg penting lulus :p . karna jujur aja,, berdua sama2 ambil TA agak berat juga, palagi ga didukung sama pembokat yang qualified, kamu agak kerepotan.

semalam bimbingan pertama, alhamdulillah topik ku di approve, hanya disarankan revisi sedikit activity diagram dan melengkapi analisanya.
meski ngerjakan TA lambat macam siput, yang penting niatnya kan. :D

well,, smoga kami bisa melewati ini dengan sukses, amien :)