21
Sep

Sebagai wanita yang baru pertama kali mengalami hamil, di bulan ramadhan pula, dari awal aku sudah coba searching fiqih yang membahas ini. Alhamdulillah banyak banget source nya, aku sharing aja disini, sapa tau bermanfaat, CMIIW sebelumnya ;)

Hari sabtu pagi minggu lalu ada npembahasan yang menarik tentang kewajiban puasa bagi ibu hamil di TPI. Aku lupa SpOG siapa yang menjadi narasumber, tapi intinya dia menganjurkan wanita hamil untuk tidak berpuasa. Memang hingga saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa puasa memberikan efek samping pada perkembangan janin secara signifikan, tapi jika dalam waktu hamil tersebut merasa kesulitan, Islam telah memberikan kemudahan untuk tidak berpuasa ;)

Dan kemaren (20-9-2007) di interaktif good morning trans 7 juga membahas hal yang sama, dengan narasumber dokter Boyke. Apa yang dianjurkan blio sama dengan SpOG sebelumnya, kalo kuat puasa silahkan, tapi kalo ga kuat ga perlu maksa.

Buat aku permasalahan intinya justru bagaimana jika wanita hamil tidak berpuasa, membayar fidyah saja atau mengqadha puasa, atau gabungan keduanya?

Alhamdulillah buku Fiqih Wanita Hamil yang aku pesan di kutukutubuku.com datang senin kemaren, karena sudah kenal baik sama orang kutukutubuku mereka usahakan bener² request ke penerbitnya agar segera dikirim stok baru.. tengkiu banget deh.

Balik lagi ke masalah awal, di buku karangan Yahya Abdurahman Al Khatib itu disebutkan ahli ilmu bersepakat bahwa jika wanita hamil atau menyusui merasa khawatir terhadap diri mereka, atau merasa khawatir terhadap diri mereka dan anak mereka, maka mereka boleh tidak berpuasa. Mereka hanya wajib mengqadha’ puasa saja. Sebab mereka seperti orang sakit yang mengkhawatirkan dirinya. Dan Allah swt berfirman pada QS. Al Baqarah : 184 “Barangsiapa diantara kalian sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (dia wajib berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari lain”.

Pendapat-pendapat Fukaha

Ahli ilmu berbeda pendapat dalam menyikapi persoalan ini, ke dalam enam pendapat :

Pendapat pertama : Jika wanita hamil atau menyusui hanya mengkhawatirkan anak mereka saja, maka mereka harus mengqadha puasa dan membayar fidyah. Ini adalah pendapat para ulama mazhab Syafi’i, berdasarkan yang kuat dan disandarkan dalam mazhab mereka, dan pendapat para ulama mazhab Hanbali. Pendapat ini juga diutarakan oleh Mujahid, dan diriwayatkan dari Ibnu Umar, Ibnu Abbas dan Atha’.

Ibnu Umar pernah ditanya mengenai wanita hamil yang mengkhawatirkan anaknya. Dia berkata, ”Dia boleh berbuka, dan memberi makan orang miskin dengan satu mud (sekitar 543 gr) gandum sebagai ganti satu hari berpuasa”

Pendapat kedua : Wanita hamil wajib mengqadha’ puasa saja dan tidak wajib membayar fidyah. Sedangkan wanita menyusui wajib mengadha puasa dan membayar fidyah. Ini adalah pendapat para ulama mazhab Maliki. Pendapat ini diutarakan oleh Laits. Dan ini adalah salah satu pendapat asy-Syafi’i dalam kitab al Buwaithi (al-mawardi, al-Hawi, jilid III,hlm 437)

Pendapat ketiga : wanita hamil dan menyusui hanya wajib membayar fidyah, dan tidak wajib mengqadha’ puasa. Pendapat ini diriwayatkan dari Ubnu Abbas, Ibnu Umar, Said bin Jabir, Qasim ibn Muhammad, dan kelompok ulama. Dan ini adalah salah satu riwayat dari Ishaq ibn Rahawiah. Masing-masing dari Said ibn Jabir, Atha’ dan Ikrimah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas dengan sanad yang hasan bahwa wanita hamil dan menyusui boleh berbuka dan memberi makan orang miskin, tidak wajib atas mereka qadha’.

Pendapat keempat : wanita hamil dan menyusui tidak wajib mengqadha puasa dan tidak pula membayar fidyah. Ini adalah pendapat Ibnu Hasan azh-Zhahiri.

Pendapat kelima : memberikan pilihan. Jika wanita hamil dan menyusui mau memberi makan orang miskin, maka mereka berdua tidak wajib mengqadha puasa. Dan jika mereka mengqadha puasa, wajib mereka tidak wajib memberi makan orang miskin. Ini adalah pendapat Ishaq ibn Rahawiah.

Pendapat keenam : wanita hamil dan menyusui wajib mengqadha puasa saja. Mereka tidak wajib membayar fidyah. Ini adalah pendapat para ulama mazhab Hanafi. Ini adalah juga pendapat asy-Syafi’i dan al-Muzani dari mazhab Syafi’i. Pendapat ini diriwayatkan dari Haasan al-Bashri, al Auza’i, Atha’, az Zuhri, Said ibn Jabir, Dahahhak, Rabi’ah, ats Tsauri, abu Ubaid, Abu Tsaur, ashhab ar-ra’yi (para pengikut aliran rasionalis dalam mazhab Hanafi). Dan Ibu Mundzir. Dan ini adalag pendapat ath-Thabari.

Al Auza’i berkata, ”Mengandung dan menyusui dalam pandangan kami adalah penyakit. Mereka wajib mengqadha’ puasa dan tidak wajib memberi makan orang miskin”

Pendapat yang kuat :

Setelah memaparkan pendapat-pendapat fukaha dan dalil-dalil mereka, jelaslah yang kuat adalah wajibnya qadha’ saja atas wanita hamil dan menyusui, tanpa membayar fidyah, berdasarkan kuatnya dalil-dalil penganut pendapat-pendapat ini dan lemahnya dalil-dalil penganut pendapat-pendapat yang lain. Ini dalam kondisi wanita hamil dan menyusui mampu mengadha. Jika mereka tidak mampu mengqadha, maka hukum dipndahkan kepada pengganti, yaitu membayar fidyahdengan memberi makan satu orang miskin sebagai ganti satu hari puasa.

Perlu diperhatikan bahwa wanita hamil dan menyusui tidak boleh berbuka kecuali jika mereka tidak mampu berpuasa kecuali disertai dengan beban yang berat dan kesulitan yang membahayakan. Dan barang siapa mampu berpuasa tanpa kesulitan yang membahayakan, maka puasa wajib atasnya.

FYI, dalam sebuah studi kedokteran yang berjudul ”Beberapa Perubahan Kimiawi yang Terjadi Karena Berpuasa Pada Wanita Hamil dan Menyusui”, yang dipersembahkan oleh tiga orang spesialis dalam ”Konferensi Mukjizat Kedokteran dalam Al-Qur’an Al-Karim” yang diadakan di Kairo bulan Muharram 1406H, disebutkan : telah didapatkan bahwa presentasi gula dalam darah tidak terpengaruh secara signifikan pada wanita hamil dan menyusui, jika dibandingkan dengan wanita biasa. Didapatkan juga bahwa presentase lemak naik pada wanita hamil, tapi pada batas yang wajar.

owyah, source lain bisa di klik di sini

14
Sep

bulan Ramadhan telah memasuki hari kedua, hari ini. seperti ramadhan tahun-tahun sebelumnya saya selalu mengusahakan shalat terawih. bedanya ramadhan kali ini terawihnya bareng suami, bukan teman-teman kos lagi :D
setelah berbuka, saya & mdani, mbak andy & suami sengaja terawih di masjid GOR ragunan bukan di musholla dekat rumah. kenapa? ya karena sholat terawih di musholla situ 23 rakaat dan cepet banget, jam 8 udah selesai, jadi sholatnya macam aerobik lah.. ngos ngos an.. hihhihihi..

seperti terawih di tahun-tahun sebelumnya, di masjid pasti penuh banget dengan anak-anak kecil. precil-precil itu lari kesana kemari sambil teriak, pasting kemriyek :D . namanya juga anak ketil..
belum lagi para ABG nya, yang keliatannya terawih plus ngeceng, pulangnya nyari tandatangan khatib atau imam nya. saya nggak menyalahkan, toh saya dulu juga pernah melewati fase seperti itu. datang ke masjid dengan para krucil, isinya becanda, sedikit sholat, pulang. jaman akhir sd lebih dewasa, sholat isya’, terawih, witir, pulangnya ga lupa minta tandatangan khatib di buku ramadhan. kesannya shalat terawih ada tendensi, ga ikhlas nyari pahala :D , sekali lagi gapapa,, namanya masih anak ketil..
makanya besok kalo ada cinta aku pengennya selalu menemani nya terawih, biar ga pencilakan kayak krucil-krucil itu :D

yang berbeda dengan jaman saya kecil dulu, abg sekarang sudah bisa bergaya dengan foto-foto narsis di hp saat salat terawih. di samping saya ada seorang ibu dari padang [sebelumnya isya' kami sempat kenalan dan ngobrol basa-basi] yang mengingatkan ketiga abg dengan ngucapin Allahuakbar keras-keras. tapi abg nya cuek beybeh aja, masih asek foto-foto, becanda-becanda. setelah 4 raka’at pertama selesai, diantara jeda ke 4 raka’at kedua ibu padang itu langsung nyolek salah satu abg. mbak, terawihnya yang bener donk, kalo niat terawih ya solat, jangan becanda gitu, kan namanya cari dosa, ganggu orang di belakangnya. si abg cuman melengos aja, tapi shalat terawih kedua mereka ikutan sholat. ibu padang tadi masih menggerutu ngomong ke aku, aku cuma senyum aja.

di akhir terawih, saat shalawat dikumandangkan, tiba-tiba saja salah satu dari abg itu menghadap ke belakang, bersalaman dan tersenyum dengan ibu padang di sebelahku. ibu, maaf ya, katanya.. ibu di sebelahku tersenyum juga,, maafin tante ya nak, tadi marah-marah

so sweet..

tapi di tengah ramainya para krucil, ramadhan selalu membawa euforia tersendiri. di tengah ramainya jamaah terawih saya selalu merindukan ramadhan di rumah. buka bersama, shalat terawih di masjid dekat rumah, lalu tadarus sambil kadang mendengarkan suara bapak dan fany yang tadarus di masjid. owh indahnya :D

10
Sep

buat saya sebuah hari ulang tahun tidak lebih perfect moment untuk menilai diri sendiri. membuat suatu comparation dengan apa yang telah saya capai pada ulang tahun di tahun sebelumnya. lebih mirip evaluasi resolusi setiap tahun baru memang. karena sejak kecil pun saya tidak dibiasakan merayakan pesta ulang tahun yang banjir hadiah [ga ultah aja ibu&bapak selalu murah hati untuk mengabulkan permintaan² saya ;) ] . bapak juga selalu menyarankan saya untuk selalu puasa pada hari ulang tahun saya, katanya untuk lebih prihatin dan memaknai pendewasaan diri, selain itu banyak ditemukan orang meninggal pada hari yang sama dengan hari dimana dia lahir.

namun diluar itu semua, ulang tahun saya 6 september kemarin membawa perubahan yang lama-lama semakin besar. i got special gift in my special day..
i’m pregnant :D
alhamdulillah..
sebenerya aku sudah telat 2 minggu. tanggal 30 aku tes masih satu strip aja. trus sama temen kantorku yag udah senior, disarankan 2 minggu setelah telat aja test nya biar terdeteksi gitu.. ibu ku juga menyarankan langsung cek ke dokter aja biar ketauan dan bisa jaga makanan.
trus mdani dapat saran juga dari temennya yang baru merit dan istrinya baru hamil beberapa minggu, tes nya pake merk HCG coz lebih akurat. yawes..pas 2 minggu aku tes, ya di tanggal 6 itu. pagi-pagi banget aku sudah bangun, tes sendiri sambil deg-deg an gimana hasilnya :D .. Ditunggu 1-2 menit ada 2 strip, satu merah terang satu pink. buru² aku bangunin mdani. sambil kriyep-kriyep dia merhatiin hasil tes itu,,

sayang, ini positif, yakin aku.. sambil tium² aku berkali-kali saking senengnya
mosok sih? kan satunya ga jelas mdani..
kan garis kedua cuman sebagai pertanda aja, positif kok. klo ga percaya aku tanya adi [temennya mdani yg nyaranin pake HCG], coba telpon angga juga..

akhirnya pagi bangett itu aku telpon angga, mdani telpon adi.. hahahaha
jawabnnya sama : lek, iku positif, ndang prikso kata angga. ki, itu mah positif, istri gue juga gitu kok satu terang satu ga jelas, kata adi.

sebelum berangkat kantor aku udah booking dokter di JMC, rekomendasi nya angga sih dokter sri,karena orangnya telaten katanya. dapat nomer 22 hari sabtu jam 9 pagi. dan ternyata jadwal ke dokter hari sabtu dipending hari minggu jam 8 karena dokternya berhalangan…

minggu pagi, sebelum di cek sama dokter sri sebelumnya aku di timbang BB & diukur tensi sama asisten dokter sri. lha kok ndilalah ketemu mbak melvi, mas yanerlie dan hasna putri kecil mereka. mbak melvi mo periksa pasca kelahiran ceritanya.

namaku dipanggil, mdani ikut masuk juga. cerita² sama dokter sri, ternyata bener kata angga, oranya telaten, informatif sekali, dan yang buat aku ga malu karena blio muslim berjilbab pula ;) . pas di usg, ternyata di monitor belum terlihat juga, jadi diceknya dari bawah.. baru ketahuan. cinta masih berumur hampir 5 minggu, besarnya masih 8 mm.. subhanallah,, sampe sekarang rasanya masih amazing! thanks God,..

kemaren disarankan jaga makanan,usahakan makan sayur & daging yang matang. jangan terlalu capek karena 3 bulan pertama adalah waktu yang paling rawan.. dikasi vitamin dan obat anti mual juga..
puasa boleh karena ga begitu mempengaruhi pertumbuhan bayi, gitu katanya.

well, bener-bener ga bisa diungkapkan.. ;)
kami mohon doanya, smoga lancar smua nya ya ..

aku merasa ini kado paling spesial..
alhamdulillah… thanks God ;)