30
Mar

belum tepat sebulan dari sakit yg sebelumnya, jumat minggu lalu biyu sakit lagi. kali ini flu singapore atau HFMD (Hand Foot Mouth Disease). setahun yang lalu biyu juga pernah kena virus ini, dan sekarang berulang lagi.
jumat sore sekitar jam 17.50 bunda temp suhu nya 38.7 der C, langsung kasi alphamol. biyu mulai rewel, dahinya makin panas. sempet ke mama aca tetangga sebelah yang perawat, karna bunda mulai panik kawatir kejang demam lagi. 15 menit kemudian bunda temp lagi 39.2 fer C. sama mama aca disarankan observ terus, berikan parasetamol per 4  jam jika masih demam dan perbanyak minum. tapiiiii ayah ga mau ambil resiko kejang demam lagi. akhirnya kami ke JMC dengan dr. irma. didiagnosis radang tenggorokan (kami pikir karena siang harinya biyu ngemil kripik tempe). diresepkan antibiotik, puyer yg isinya obat demam dan anti kejang diberikan selang seling dengan alphamol nya. bunda ga berikan antibiotiknya. puyer sempet 2kali karena demam nya mencapai 39 der C.

Sabtu pagi, demam mulai turun, muncul bintik2 merah di paha. biyu masih rewel dan ga mau makan. sore nya bunda telp DSA nya, dia bilang bisa aja flu singapore, untuk memastikan dibawa aja kemari. oke bunda bawa, diagnosanya bukan flu singapore, karena klo flu singapore sariawannya kurang parah dari ini, begitu katanya. bunda tanya bintik2 nya karna apa, jawab dokternya karna virus. bunda kejar virus apa, dokternya ga bisa pastikan.. :(
disarankan obat diteruskan, diresepkan sabun phisohex dan bedak salisi.
kenyataanya obat ga bunda kasih sama sekali, tetap mandi dengan sabun phisohex, klo biyu mulai rewel karena gatel nya bunda usapin bedak nya.. manjur..

minggu mulai ceria, beberapa bintik merah mulai kering beberapa mulai tumbuh.

senin, nafsu makan udah agak balik, terbukti pagi2 udah habis 2 roti :D .bintik merah banyak yg sudah kering, sudah mulai main keluar rumah.

bunda juga sempet kirim email ke milis sehat. karena sejak sabtu bunda observ gejalanya kok ga ada yang mirip dengan rubella/roseolla dan teman2nya..
alhamdulillah dapat respon dari smart parent dan dr. anto sbb :

anto
Siang bu nina, Mungkin kalau terima balesannya demamnya sudah hilang kali ya,…
Mar 28 (1 day ago)
antoLoading…
Mar 28 (1 day ago)

anto

to sehat

show details Mar 28 (1 day ago)
from anto <yuliantosk@gmail.com>
reply-to sehat@yahoogroups.com
to sehat@yahoogroups.com
date Sun, Mar 28, 2010 at 8:24 PM
subject RE: [sehat] demam 1 hari lalu bintik merah
mailing list <sehat.yahoogroups.com> Filter messages from this mailing list
mailed-by returns.groups.yahoo.com
signed-by yahoogroups.com
unsubscribe Unsubscribe from this mailing-list
hide details Mar 28 (1 day ago)
Images are not displayed.
Display images belowAlways display images from yuliantosk@gmail.com

Siang bu nina,

Mungkin kalau terima balesannya demamnya sudah hilang kali ya,

Bila anak demam, yang pertama observasi ada tanda kegawatdaruratan atau
tidak.

Bila tidak ada tanda gawat darurat, anak tidak sakit berat maka kita bisa
observasi dahulu.

Anak sakit berat atau tidak ibu bs browsing ke NICE guidelines Fever. Gawat
darurat bisa cek di www.kidshealth.org

Dalam masa observasi 72 jam tersebut, kita selain mengobservasi gejala jg
memberikan nutrisi dan cairan, penurun panas (parasetamol) bila perlu.

Demam saja merupakan penanda infeksi, diperlukan tanda-tanda lainnya untuk
menegakkan diagnosis.

Contoh pada HFMD (hand foot and mouth disease) hari pertama demam, kemudian
muncul sariawan bersama bintik dan bintil merah di telapak tangan dan kaki,
yang mungkin terlihat di hari ke dua atau ke tiga.

Gejala awal hanya demam, tidak enak menelan.

Bila ibu langsung ke dokter di hari pertama maka diagnosis bisa radang
tenggorokan, bila kemudian ke dokter lagi setelah bintik di tangan, kaki,
sariawan muncul baru diagnosis HFMD bisa ditegakkan.

Penyebab HFMD adalah virus, self limiting disease. Jadi diobservasi dan
diberikan asupan cairan dan nutrisi.

Untuk mencegah pengobatan yang tidak perlu maka diperlukan diagnosis, dan
diagnosis diperlukan observasi, dan observasi membutuhkan suatu perjalanan
penyakit yang muncul degnan berjalannya waktu.

Bila tidak ada tanda gawat darurat dan anak tidak sakit berat, dengan
menjaga asupan nutrisi dan cairan maka dapat ditunggu 72 jam observasi.

Semoga biyu sudah sembuh

-anto-

gejalanya sebagai berikut :
- demam 38 der C – 39 der C
- sepertinya pusing juga karena bbrp kali biyu bilang atitttt sambil nepuk2 kepala
- sariawan, ditandai dengan ngeces teruss
- pada hari kedua demam mulai turun, muncul bintik2 merah di tangan dan kaki (termasuk telapak tangan dan kaki), bentuknya seperti jerawat. daerah paling banyak bintik2 nya di lipatan lutut dan paha
- hari ke 3-4 bintik merah mulai kering, nafsu makan meningkat

pelajaran yang dapat diambil kali ini :
1.  harusnya kami orang tua jangan gampang panik klo anak demam, meski punya riwayat kejang demam. dan lebih aktif tanya2 ke DSA :D
demam bukan penyakit, demam adalah gejala awal. observ saja sampai 72 jam, berikan parasetamol per 4 jam, banyakin intake cairan

2. bila tidak ada tanda2 gawat darurat harusnya ga perlu ke dokter. selain menghindari trauma anak pada dokter/RS (ini udah terbukti sama biyu.. begitu masuk RS udah nangis minta pulang ), menghindari virus2 yg ada di RS terkena ke kita, juga kebanyakan dokter suka lebay dengan meresepkan antibiotik, padahal udah jelas penyakitnya disebabkan virus. :( capcay dehhh .

2. penyakit yang disebabkan virus ga butuh obat apapun, apalagi antibiotik. hanya dibutuhkan parasetamol bila perlu, pluss kekebalan tubuh yang didapat dari makan dan minum yang cukup.
antibiotik hanya untuk penyakit yang disebabkan bakteri.

3. banyakin stok sabar, sabar dan sabar.. jangan sampe telat makan agar tetap vit jagain si kecil :)

15
Oct

just share, dari milis parenting yang Ayah ikutin..
smoga bermanfaat :)

Jangan Membentak Anak

Pernahkah Anda melihat bagaimana seorang ayah/ibu membentak anak-anaknya? adakah yang dengan lemah lembut dan penuh senyuman? ternyata tidak. Kita juga dapat melihat, berapa banyak orang tua yang ingin dipatuhi dan dihargai anak-anaknya namun dengan metode ‘membentak’ ehm…ironi memang, padahal dari membentak itulah banyak efek negatif yang akan dialami sang anak. Membentak, pada anak akan sangat berefek pada psikologisnya, dia akan merasa tertekan dan akan memendam rasa tertekannya itu. Membentak bisa berpengaruh buruk pada anak-anak, karena bisa membuat renggang ikatan batin dengan anak, selain itu bentakan tidak mengajarkan apa-apa untuk perkembangan si kecil. Saat usia anak masih di bawah 10 tahun, mereka tidak akan melawan atau balas membentak. Tetapi karena sikap pasif mereka itu, Anda jadi tidak bisa mengukur seberapa besar dampak psikologis yang ditimbulkan karena membentak. Anak cenderung untuk meniru perilaku orangtuanya. Seorang anak yang selalu dibentak, diomeli, atau dimarahi, akan tumbuh dengan keyakinan bahwa dia sah-sah saja berkomunikasi dengan menggunakan bentakan, omelan, atau kemarahan.

Nah, bagaimana me-manage kekesalan kita pada anak, supaya kita tak perlu ngomel (apalagi membentak atau memarahi)? Berikut ini tipsnya.

1. Berikan instruksi dengan jelas.

Sebagai contoh, Anda sudah capek berkali-kali menyuruh anak menaruh baju kotornya di tempat khusus, tapi mereka tetap saja menggeletakkan baju-baju itu di lantai. Nah, daripada ngomel, lebih baik kita teliti, jangan-jangan anak kita memang belum bisa membiasakan diri melakukan sesuatu atau tidak paham instruksi kita. Anak usia di bawah 7 tahun butuh bantuan ortu dalam pembiasaan sesuatu. Jadi, jangan beri instruksi saja, melainkan ajak anak bersama-sama mengambil bajunya dari lantai lalu menaruhnya di ember cucian. Jika anak sudah berusia belasan tahun, gunakan kata “saya”, bukan “kamu”, misalnya, “Mama lihat kamu masih meletakkan bajumu di lantai.” Jangan ngomel, “Kamu kenapa sih, kok naruh baju kotor di lantai melulu?!”. Hindari kata “melulu, selalu, terus-terusan, atau pasti” karena pelabelan semacam ini malah mendorong anak untuk terus melakukan kebiasaan buruknya.

2. Selalu introspeksi sumber kemarahan Anda.

Seringkali, kemarahan kita pada anak sesungguhnya bersumber dari problem yang ada dalam diri kita. Bila Anda capek pulang dari kantor atau capek seharian mempersiapkan makanan untuk arisan nanti sore, lalu Anda melihat anak Anda menumpahkan susu di karpet, sangat mungkin Anda segera meledak dan ngomel panjang lebar. Karena itu, saat ada insiden yang membuat Anda marah, tahan sebentar dan introspeksi diri. Tanyalah pada diri sendiri, apakah perilaku anak Anda memang patut ditegur atau bisa dibiarkan saja. Misalnya, saat Anda baru pulang (dan tadi di kantor sedang suntuk karena perilaku atasan), anak-anda Anda bertengkar dan salah satunya mengadu sambil menangis. Kalau Anda sedang tidak mood untuk menyelesaikan insiden yang terjadi, katakan pada anak Anda bahwa perasaan Anda sedang tidak enak dan Anda akan membicarakan masalah itu nanti. Kalau ada anggota keluarga yang bisa dimintai bantuan (misalnya suami), lebih baik serahkan urusan anak kepadanya sampai perasaan Anda membaik.

3. Identifikasi problem Anda.

Ngomel dan membentak tidak membuat problem Anda selesai. Anak remaja tidak tahu bahwa Anda sakit kepala saat mereka menghidupkan kaset keras-keras. Anak-anak butuh penjelasan dari orangtua apa yang dirasakan oleh orangtua supaya mereka memahami apa yang sedang terjadi. Jadi, daripada ngomel, “Hey, kecilin bunyi tape-nya! Mama pusing!” lebih baik jelaskan baik-baik bahwa Anda tidak tahan bunyi keras dan kepala Anda pusing bila mendengar bunyi keras. Anak kecil juga tidak paham mengapa Anda harus marah saat dia menumpahkan sesuatu di karpet. Karena itu, daripada ngomel, “Tuh kan , tumpah lagi! Mama kan sudah bilang, hati-hati!” lebih baik Anda mengajak anak Anda mengelap karpet dan jelaskan bahwa kita harus menjaga kebersihan karpet.

4. Penuhi kebutuhan dasar Anda dulu.

Jika Anda berusaha menyelesaikan masalah dengan anak saat Anda lelah atau lapar, berarti saat itu kebutuhan dasar Anda belum terpenuhi dan hal ini akan menambah rasa frustasi. Karena itu, bila situasinya memungkinkan, Anda sebaiknya makan atau istrirahat dulu, baru selesaikan masalah dengan anak Anda.

5. Berikan respon, bukan reaksi.

Membentak dan mengomel adalah tindakan reaktif dan kadang malah membuat anak menggunakan cara ‘mengganggu’ untuk mencari perhatian dari Anda. Bila ada perilaku anak yang menurut Anda tak pantas, daripada bersikap reaktif (ngomel/membentak), lebih baik bersikap responsif. Tataplah mata anak Anda dan ungkapkan maksud Anda dalam kalimat yang pendek. Contohnya, daripada ngomel, “Heh, Mama udah capek bilang sama kamu, naruh tas jangan di sini! Taruh di kamar sana !” pakailah kalimat pendek dan tegas (sambil menatap mata anak), “Nak, tolong taruh tasnya di kamar. Sekarang.”

Anak kita adalah masa depan kita, marilah kita didik dengan kata-kata yang bijak penuh cinta dan kasih saying, karena anak bagaikan cermin bagi kita, dia akan memantulkan apapun sesuai sumber benda yang dipantulkannya.

Semoga Allah SWT memberi kita kekuatan dalam mendidik anak-anak kita menjadi anak yang sholeh dan sholehah.

Sumber:

1. kompasdotcom

2. “Effective Parenting Lessons: How to Stop Yelling at Your Children” karya Marie Magdala Roker

15
Apr

sejak ke kondangan hook sabtu kemaren Biyu rewel mulu. minta gendong bunda teruuus,, gamau diganti sama ayah. nempeeeelll pell kemana-mana sama bunda.. anak ini kenapa ya, lagi manja kah? aku cek badannya juga ga anget. tapi, ga seceria biasanya. setelah kondangan selesai kami masih mampir ke kebun raya, biyu teteeeepp aja nempel. gamau mimik klo ga terpaksa.
bunda yang sejak kamis berasa susah nelen makin menjadi, akhirnya sabtu malam ke JMC, divonis radang tenggorokan. :(

sabtu malam biyu mulai anget, tapi masih mau mimik. minggu pagi demam nya smakin tinggi, gamau maem, mimi, atau nenen. nempeeeeelllllllll mulu sama bunda. rewel pol wes.. di paha dan tangannya muncul bintik-bintik merah mirip biang keringat. satu dua bintil2 kayak berisi air (mirip cacar) di lutut dan telapak tangan. akhirnya minggu malam aku bawa lah biyu ke dokter. berubung hari libur jadi ga ada spA, adanya dokter umum tok. diagnosis virus/infeksi. dikasi alphamol, anhesis, dan isprinol smua berbentuk sirup. kata dokter arif, ini bukan cacar. ada indikasi virus singapore, kalo dalam 2 hari belum membaik suruh balik lagi.
minggu malam mau makan, mimi, mik obat trus bubu. sejak sakit ga mau nenen bunda lagi.. dalam semalam biyu habis 5 x 120 ml sufor.. haus kali yee seharian ga mimik..

senin pagi udah mulai ceria, udah mau maen meski ga segesit biasanya. tapi demam naik lagi.. untuk memastikan aku bawa lagi ke dokter anak yang bukan dokternya Biyu biasanya. walahh,, pas masuk ruangannya, dokternya udah tua, aku ngomong apa dia jawab apa, udah miskom banget deh, diperiksa tenggorokan biyu radang dan berlendir, disuruh cek darah! oh NO… ini baru 2 hari demam dan ga tinggi banget, masih mau maen, makan mimik gitu loh..
akhirnya ayah masuk lagi ke ruang dokter itu, bilang dipending dulu aja cek darahnya. akan di observ sampe selasa, kalo masih demam mau deh cek darah. dokter itupun ngecek lagi, obat apa aja yg udah dikasi dokter arif. dianalisis sebentar, ehh diagnosa dia dicoret, disarankan nerusin obat yang dari dokter arif, plus dikasi antibiotik puyer! ya ampun,, makin ga yakin deh sama dokter ini. hare gene masih dikasi puyer,, kayaknya ga update nih dokter.yaweslah ditebus tapi ga dikasi ke biyu.

senin siang – malam udah mo makan, mimi, maem jeruk juga. tapi teteepppppppppp maunya nempel bunda..
selasa pagi udah ga demam lagi, dan bintik-bintik merah di tangan dan kakinya mulai hilang. masih nempel banget banget sama bunda, gamau digendong ayah atau yuknya.

alhamdulillah pagi ini udah mulai sembuh, udah maen, cerewet, maem mimi smua habis…

sedikit review tentang virus singapura ini ada di sini. termasuk mild desease dan penyakit akan sembuh sendirinya, asal disupport dengan cukup nutrisi, makanya sebisa mungkin anak tetap makan minum meski sedikit-sedikit.

dan,, karena bunda radang tenggorokan + sariawan dimana² makan dan minum sedikit, biyu ga mau nenen, ga sempet breastpump karena biyu bener ² ga bisa ditinggal sebentarrrrrrr aja,, asi nya ngedrop bangettttttttttt :cry: biasanya tiap 2 jam dapat 60ml, ini 6 jam cuma 60 ml :(
masak udah waktunya sihhhhh biyu ga mik asi lagi?? 2 tahun masih lama kannnnnnn
*pengan relaktasi lagi, tapi ga yakin aku bisa..